Download this Blogger Template by Clicking Here!

Ad 468 X 60

Jumat, 04 Desember 2015

Widgets

Tokoh Penyebar Islam di Indonesia



Faktor yang paling penting dalam melaksanakan Islamisasi di Indonesia adalah melalui perdagangan, seperti dikemukakan oleh Wolters bahwa Indonesia merupakan tempat yang sangat strategis sebagai tempat persinggahan dari bangsa-bangsa sebelah barat seperti Persia, Arab, dan India yang hendak menuju ke timur, yaitu ke Indonesia, Cina, dan Jepang. 

Selain golongan pedagang, peranan para wali juga sangat penting dalam proses penyebaran tersebut. Snouck bahkan berpendapat bahwa peranan para ustad dan sultan sangat besar untuk memperkenalkan Islam di Indonesia. Mereka berasal dari Arab dan mengaku sebagai keturunan Nabi Muhammad saw. dengan memakai gelar Sayyid Syarif yang menjalankan dakwah dengan motif keagamaan.

Di Pulau Jawa, proses Islamisasi memiliki satu kekhasan. Islamisasi di Jawa dilakukan oleh sekelompok mubalig Islam yang dikenal dengan sebutan walisongo. Wali arti harfiahnya adalah orang yang dekat dengan Allah, sedangkan songo menunjukkan jumlah yaitu sembilan. Jadi walisongo artinya sembilan orang wali. 

Walisongo
Ada pula yang mengartikan songo itu bukan angka sembilan dalam pengertian jumlah, tetapi menunjukkan bahwa sembilan itu (songo) menunjukkan angka yang sakral atau suci. Jadi walisongo bisa diartikan pula dengan orang-orang (wali) yang disucikan, karena jumlah wali itu lebih dari sembilan. 

Walisongo sangat dihormati serta dimuliakan oleh orang-orang, terutama di pulau Jawa, bahkan para walisongo itu diberi gelar Sunan atau Susuhunan artinya yang dijunjung tinggi atau gelar yang tinggi dan mulia.

Cara yang dilakukan oleh walisongo dalam menyebarkan agama Islam sangat menarik. Mereka menggunakan metode-metode yang memudahkan ajaran Islam diterima oleh masyarakat luas dari berbagai golongan. Mereka menggunakan pendekatan kebudayaan untuk memperkenalkan Islam kepada masyarakat. Para wali itu, antara lain sebagai berikut.

a. Maulana Malik Ibrahim

Maulana Malik Ibrahim atau Makdum Ibrahim, sering pula disebut Maulana Maghribi, dan ada juga orang menyebutnya dengan sebutan Kakek Bantal. Maulana Malik Ibrahim adalah orang pertama menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudera Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). 

Dari beberapa sumber, ada yang menyebutkan ia berasal dari Persia, ada juga yang menyebutkan dari Turki, Arab, dan riwayat lain menyebutkan ia berasal dari Gujarat. Tetapi pendapat yang lebih kuat ia berasal dari tanah Arab, tepatnya Maroko.

Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa (Kamboja). Ia menikahi putri Campa dan dikaruniai dua orang putra, yaitu Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwahnya di negeri itu, pada tahun 1329 M, ia hijrah ke Pulau Jawa. Daerah pertama yang dituju adalah Desa Sembalo (sekarang daerah Leran Kecamatan Manyar, 9 kilometer dari utara kota Gresik), daerah yang masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Meskipun ia bukan orang Jawa, namanya terkenal di kalangan masyarakat Jawa, sebab ia yang menjadi pelopor penyebaran Islam di Jawa dengan pusat kegiatannya di Gresik, dekat Surabaya. Dalam proses dakwahnya kepada masyarakat, ia melakukannya dengan penuh hati-hati, bijaksana, dan mengadakan pendekatan personal pada masyarakat Jawa.

Kepercayaan sebelumnya yang dipegang oleh masyarakat tidak ditentang begitu saja. Ia memperkenalkan budi pekerti yang diajarkan Islam dengan tutur kata yang sopan, lemah lembut sehingga banyak penduduk Jawa yang tertarik memeluk agama Islam. Maulana Malik Ibrahim wafat pada tanggal 12 Rabiul Awal 822 Hijriah atau 9 April 1419 M dan dimakamkan di Gresik.

b. Sunan Ampel

Sunan Ampel nama aslinya Raden Rahmat, seorang kemenakan dari Raja Majapahit Kertawijaya. Menurut cerita rakyat, ia berasal dari Campa. Mengenai Campa ini ada dua pendapat, pertama Champa di Indochina, kedua Jeumpa di Aceh. Disebutkan ia adalah anak dari Raja Cempa Ibrahim Asmarakandi (Maulana Malik Ibrahim) yang diutus ke Majapahit dan oleh Raja Majapahit diperkenankan tinggal dan menetap di Ampeldenta (Surabaya).

Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke Pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama adiknya, Sayid Ali Murtadha. Tetapi sebelum sampai ke Jawa, ia singgah dahulu di Palembang, kemudian berlabuh di daerah Gresik, dilanjutkan ke Majapahit untuk menemui bibinya yang bernama Dwarawati, seorang putri Campa yang dipersunting Raja Majapahit yang bergelar Prabu Sri Kertawijaya.

Pada tahun 1450, Raden Rahmat menikah dengan Nyi Ageng Manila, putri Bupati Tuban yang sudah memeluk agama Islam. Selanjutnya Raden Rahmat menetap di daerah Ampeldenta pemberian dari Raja Majapahit. Di sana Raden Rahmat mendirikan masjid dan membuka pondok pesantren, sehingga ia dikenal dengan Sunan Ampel. Sesuai dengan tugasnya, ia adalah guru yang mengajarkan budi pekerti kepada para adipati, pembesar keraton, dan bagi masyarakat yang ingin belajar tentang keislaman. Pada pertengahan abad ke-15, pesantren tersebut menjadi pusat pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara.

Ajaran Sunan Ampel yang terkenal adalah falsafah Mo Limo, Mo artinya ora gelem (tidak mau) dan Limo artinya perkara lima. Jadi maksud Mo Limo ialah tidak mau melakukan perkara lima yang terlarang, yaitu :

1) Emoh main (tidak mau judi)
2) Emoh ngumbih (tidak mau minum-minuman yang memabukkan)
3) Emoh madat (tidak mau minum atau menghisap candu atau ganja)
4) Emoh maling (tidak mau mencuri)
5) Emoh madon (tidak mau berzina)

Keberhasilan Sunan Ampel lainnya ialah melahirkan tokoh wali lainnya seperti Sunan Giri, Sunan Kalijaga, dan putranya sendiri yang bernama Sunan Derajat dan Sunan Bonang. Keberhasilan yang lain, Sunan Ampel menjadi perencana Kerajaan Demak. Dialah yang melantik Raden Patah sebagai Sultan Demak yang pertama tahun 1403 Saka (1481 M). Pada tahun 900 Hijriyah (1494 M), Sunan Ampel wafat. Jena ahnya dimakamkan di Ampeldenta, Surabaya.

c. Sunan Bonang

Sunan Bonang atau Makhdum Ibrahim lahir pada tahun 1450 M. Ia adalah putra Sunan Ampel dari istrinya yang bernama Nyi Ageng Manila, putri seorang adipati di Tuban. Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampeldenta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana dan kemudian menetap di Bonang (sebuah desa kecil di Lasem, Jawa Timur). Di tempat itulah Sunan Bonang mempunyai tempat kegiatan dakwahnya yaitu di daerah Bonang, dekat Tuban. Di sana ia mendirikan pesantren yang sekarang dikenal dengan sebutan Watu Layar. Dari pondok pesantren itu, ia mengajar dan mengembangkan agama Islam.

Dari pesantrennya di Bonang (Tuban), agama Islam disebarkan ke daerah pantai, mulai Rembang sampai Surabaya. Dari hasil survei di lapangan, ternyata rakyat Tuban mayoritas menyukai lagu-lagu gending gamelan. Untuk itu dalam melaksanakan dakwah kepada masyarakat, ia menggunakan kesenian rakyat yang disebut bonang. Ia menabuh bonang diiringi dengan lagu-lagu berupa pantun yang bernapaskan keagamaan. Sunan Bonang berhasil menggubah lagu gending sekaten dan tembang mocopat yang sampai sekarang tembang itu populer di kalangan masyarakat Jawa.

Tidak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fiqih, ajaran Sunan Bonang berusaha memadukan ajaran ahlusunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fiqih, usuluddin, tasawuf, seni, sastra, dan arsitektur. Ajarannya berintikan pada filsafat isyq (cinta). Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan, dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikan secara populer melalui media kesenian. Pada tahun 1525 M, Sunan Bonang wafat dan dimakamkan di daerah Tuban.

d. Sunan Derajat

Sunan Derajat nama sebenarnya adalah Masih Munat, putra dari Sunan Ampel, saudara dari Sunan Bonang. Dalam melakukan kegiatan dakwahnya, ia mengambil cara ayahnya, terutama dalam mengajarkan tauhid dan akidah, yaitu secara langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Walaupun demikian, cara penyampaiannya menggunakan alat kesenian dengan menabuh seperangkat gamelan, sebagaimana dilakukan oleh Sunan Muria. Sunan Derajat mengubah sejumlah suluk, di antaranya suluk petuah. Ia juga menciptakan lagu gending pangkur yang sampai sekarang lagu itu masih banyak digemari oleh masyarakat Jawa. Pusat kegiatan dakwahnya di daerah Sedayu, Jawa Timur.

Sunan Derajat dikenal dengan kegiatan sosialnya. Ia dikenal sebagai seorang yang bersahaja yang suka menolong sesama. Dialah wali yang memelopori penyantunan anak-anak yatim, fakir miskin, dan orang sakit. Sunan Derajat wafat pada pertengahan abad ke-15 dan dimakamkan di Sedayu, Gresik (Jawa Timur).

e. Sunan Giri

Sunan Giri atau Raden Paku. Ia adalah putra dari Maulana Ishak dari Blambangan, yang juga sahabat Sunan Ampel. Raden Paku bersahabat dengan Makhdum Ibrahim, dan keduanya oleh Sunan Ampel disuruh pergi haji ke Mekkah sambil menuntut ilmu. Keduanya juga pernah menimba ilmu di Pasai (Aceh).

Dengan bantuan masyarakat Gresik, Sunan Giri mendirikan pesantren di daerah Giri. Atas ketekunan dan kesungguhannya, pesantren itu bukan hanya sebagai tempat pendidikan dalam artian sempit, tetapi juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Dalam waktu tiga tahun, pesantren Giri sudah terkenal ke seluruh Nusantara, sehingga banyak murid-muridnya yang datang dari Madura, Kalimantan, Makassar, Lombok, dan seluruh Jawa. Raja Majapahit sendiri memberi keleluasaan kepadanya untuk mengatur pemerintahan karena khawatir ia melakukan pemberontakan. Kemudian pesantren itu pun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton.

Ketika Raden Fatah lepas dari pengaruh kekuasaan Majapahit, Sunan Giri diangkat menjadi penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Banyak mubalig dari pesantren Giri yang dikirim ke Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku. Sunan Giri dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fiqih.

Orang pun menyebutnya Sultan Abdul Fakih. Ia juga pencipta karya seni yang luar biasa. Gending Pucung yang bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam adalah salah satu karya Sunan Giri. Sunan Giri wafat pada tahun 1600 M dan dimakamkan di atas Bukit Giri, dekat Gresik.

f. Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga atau Raden Jaka Said. Ia adalah putra seorang Adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta. Sejak kecil, dalam diri Raden Jaka Said sudah tampak jiwa luhur yang ditandai dengan selalu taat kepada agama dan berbakti kepada orang tua, serta mempunyai sikap welas asih kepada semua orang. Ia menjadi murid Sunan Bonang, kemudian menikah dengan putri Maulana Ishak. Berbeda dengan para wali lain, Sunan Kalijaga menjadi mubalig keliling dan tidak mempunyai pusat dakwah yang tetap.

Dalam melaksanakan dakwahnya, Sunan Kalijaga menggunakan kesenian wayang kulit yang sangat digemari masyarakat sejak aman Hindu. Kisah Mahabharata yang melandasi cerita wayang disesuaikan agar tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Penggunaan wayang sebagai alat dakwah ini ternyata memberi kemudahan dalam meluaskan penyebaran Islam ke masyarakat.

Sunan Kalijaga sebagai Mubalig yang ahli seni, ahli filsafat, dan kebudayaan memiliki beberapa karya seni hasil ciptaannya antara lain orang pertama yang merancang baju takwa, menciptakan lagu Dandang Gula dan Semarangan, menciptakan seni ukir bermotif dedaunan, menciptakan bedug di masjid, memprakarsai Gerebeg Maulud, menciptakan Gong Sekaten, dan membuat kreasi baru wayang menjadi karikatur, digambar dan diukir pada kulit binatang. Pada pertengahan abad ke-15, Sunan Kalijaga wafat dan di makamkan di daerah Kadilangu, dekat Demak.

g. Sunan Kudus

Sunan Kudus atau Jafar Sadiq. Ia adalah salah seorang panglima tentara Demak. Kemudian ia mengembara ke Tanah Suci, Mekkah untuk memperdalam agama Islam. Sekembali dari Mekkah, ia mendirikan pusat keagamaan yang diberi nama Kudus, diambil dari nama al-quds (Palestina), sehingga ia lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus.

Sunan Kudus merupakan banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara dakwahnya pun meniru Sunan Kalijaga yaitu toleran pada budaya setempat. Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu-Buddha. 

Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Sunan Kudus seorang yang ahli dalam bidang tauhid, hadis, fiqih dan lainnya. Ia juga terkenal sebagai pujangga yang mengarang cerita pendek yang berfalsafah dan bernapaskan keagamaan.

Semasa hidupnya, ia mengajarkan agama Islam di sekitar pesisir utara Jawa Tengah di daerah Kudus. Selain sebagai seorang wali, Sunan Kudus juga menjabat sebagai Senopati Demak. Peninggalan yang termasyhur adalah Masjid Kudus. Menaranya berbentuk candi, dan sering disebut Masjid Menara. 

Pada mihrab masjid ini tercantum tahun peresmian masjid, yaitu 956 Hijriah (1549 M). Dalam bidang kesenian ia dikenal sebagai pencipta Gending Asmarandana. Pada tahun 1550, Sunan Kudus wafat dan dimakamkan di daerah Kudus, Jawa Tengah.

h. Sunan Muria

Sunan Muria atau Raden Prawoto atau Raden Umar Said, adalah putra Sunan Kalijaga dari istrinya yang bernama Dewi Sorah. Dewi Sorah adalah adik kandung Sunan Giri. Gaya berdakwah Sunan Muria seperti ayahnya, Sunan Kalijaga. Tetapi ia lebih menyukai tinggal di daerah terpencil, jauh dari kota. Pusat kegiatannya di lereng Gunung Muria (Jawa Tengah). Ia banyak bergaul dengan rakyat jelata. Sambil bercocok tanam, berladang, dan berdagang, ia mengajarkan agama Islam. Selain itu, Sunan Muria berdakwah dengan menggunakan media kesenian rakyat yaitu berupa gamelan. Ia menciptakan gending sinom dan kinanti.

Sunan Muria sering berperan juga di Kesultanan Demak sebagai penengah dalam konflik istana. Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapa pun rumitnya. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Beliau wafat pada tahun 1560 M dan dimakamkan di atas Gunung Muria.

i. Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah lebih dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati karena pusat kegiatan dakwahnya berada di daerah Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat. Pada tahun 1570 M, Sunan Gunung Jati wafat dan dimakamkan di Gunung Jati, Cirebon.

Setelah Walisongo, proses penyebaran agama Islam diteruskan oleh para ulama yang peranannya sama dengan para wali. Para ulama itu tersebar di berbagai pelosok tanah air, antara lain sebagai berikut.

1) Tokoh ulama dari Jawa
a) Syekh Bentong dengan daerah dakwah di Gunung Lawu
b) Sunan Bayat yang banyak menyebarkan Islam di daerah Klaten dan sekitarnya
c) Syekh Majagung, Sunan Prapen, dan Sunan Sendang yang berperan dalam pendidikan pondok pesantren di daerah Jawa

2) Tokoh ulama dari luar Jawa
a) Datuk Ri Bandang yang menyebarkan agama Islam di daerah Makassar
b) Datuk Sulaeman yang menyebarkan agama Islam di daerah Sulawesi
c) Tuan Tunggang Parangang dan Penghulu Demak yang menyebarkan Islam di Kalimantan.




SHARE THIS POST   

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: Mohammad
Mohammad is the founder of STC Network which offers Web Services and Online Business Solutions to clients around the globe. Read More →

0 komentar: