Sabtu, 23 Januari 2016
muslim masuk kristen
muslim masuk kristen
“Saat kalian menangkap para kafir itu,
pukuli mereka! Allah akan senang,” Zahid memberi mereka semangat.
Kerumunan yang terdiri dari pria-pria muda, kaum muda dari rumah
ibadahnya, mengayunkan tongkat dan pipa besi dan bersorak dalam
kesepakatan. Ia merasa dalam keadaan baik-baik saja sebagai seorang
petinggi agama yang masih muda. Dan ia merasa orang tuanya akan bangga.
Dalam beberapa menit, ia dan teman-temannya menyisiri jalan-jalan desa
dan mencari orang-orang Kristen untuk dijebak.
Zahid memiliki garis keturunan yang
membanggakan di Pakistan. Ayah dan abangnya merupakan petinggi agama dan
Zahid telah mengikuti jejak mereka. Setelah ditugaskan di rumah
ibadahnya untuk pertama kalinya, kebencian Zahid terhadap orang Kristen
mulai tampak dan ia mulai mengumpulkan para pengikutnya untuk menentang
mereka.
Pemerintahannya makin lama makin
terpengaruh oleh salah satu hukum agama yang menuntut kematian bagi
siapa pun yang didapati bersalah karena penghujatan atas nabi dan kitab
suci mereka. Saat kegilaan mereka memuncak, Zahid memimpin kelompoknya
ke jalan-jalan, dan tidak diperlukan waktu yang lama sampai mereka
menemukan sekelompok orang Kristen muda untuk diserang, pada saat
dikejar salah satu dari antara mereka menjatuhkan Alkitabnya.
Seorang anggota kelompok Zahid memungut
Alkitabnya dan membukanya untuk merobek-robek halamannya. Zahid
senantiasa memberitahu para pengikutnya untuk membakar semua Alkitab
yang telah mereka kumpulkan. Tetapi kali ini Zahid merasakan keinginan
yang aneh untuk menyimpan dan mempelajarinya serta mencari
kesalahan-kesalahan yang ada di dalamnya.
Zahid melaporkan dalam kata-katanya
sendiri apa yang terjadi karena menyimpan Alkitab itu: “Aku sedang
membaca Alkitab, mencari kontradiksi – kontradiksi yang dapat kugunakan
melawan iman Kristen. Tiba-tiba, sinar yang terang benderang muncul di
kamarku dan aku mendengar sebuah suara memanggil namaku. Cahaya itu
demikian terang, ia menerangi seluruh kamar. Suara itu bertanya, `Zahid,
mengapa engkau menganiaya Aku?` Aku ketakutan. Aku tak tahu apa yang
baru dilakukan. Kupikir aku sedang bermimpi. Aku bertanya, `Siapakah
engkau?` Aku mendengar, `Akulah Jalan, Kebenaran, dan Hidup.` Selama
tiga hari berikutnya cahaya dan suara itu kembali. Akhirnya, pada malam
keempat, aku berlutut dan menerima YESUS sebagai Juru Selamatku.”
Kebencian Zahid tiba-tiba lenyap. Ia
ingin membagikan Yesus kepada siapa pun yang ia kenal. Ia pergi kepada
anggota-anggota keluarganya dan mereka yang berada di rumah ibadah dan
memberitahukan apa yang telah terjadi kepadanya selama empat malam
terakhir kepada mereka. Keluarga dan teman-temannya berbalik
menentangnya, ia ditangkap oleh yang berwajib. Berdasarkan ajaran
agamanya terdahulu, Zahid kini dianggap sebagai orang yang murtad,
seorang pengkhianat bagi agama, dan dianggap seorang penjahat.
Zahid ditempatkan di dalam penjara selama
dua tahun, dia disiksa berulang-ulang. Satu waktu, mereka mencabut
kuku-kukunya dalam upaya mematahkan imannya; mereka mengikat rambutnya
pada kipas angin di langit-langit dan membiarkannya tergantung di sana.
“Walaupun aku menderita amat hebat dalam tangan penangkap-penangkapku,
aku tidak menyimpan kepahitan terhadap mereka. Aku juga pernah membenci
orang-orang Kristen. Menurut hukum agamaku dulu, aku harus dieksekusi
dengan cara digantung.”
“Mereka berusaha memaksaku untuk menarik
kembali imanku dari Yesus. Tetapi aku tidak dapat menyangkal Yesus. Nabi
agamaku dulu tidak pernah mengunjungiku; Yesus pernah dan aku tahu
bahwa Dia adalah kebenaran. Aku hanya berdoa bagi para penjaga, berharap
bahwa mereka juga akan mengenal Yesus.”
Pada hari Zahid akan digantung, ia tidak
takut akan kematian saat mereka datang untuk membawanya dari sel. Bahkan
saat mereka menempatkan jeratan di sekeliling lehernya, Zahid
berkhotbah mengenai Yesus kepada para penjaga dan pengeksekusinya. Ia
ingin agar nafas-nafas terakhirnya di bumi dipergunakan untuk
memberitakan kepada rekan-rekan bahwa Yesus adalah “jalan, kebenaran,
dan hidup”. Zahid berdiri dengan siap untuk menghadap Juruselamatnya.
Tiba-tiba, suara-suara keras terdengar di
ruangan luar. Para penjaga bergegas memberitahu bahwa persidangan telah
mengeluarkan perintah untuk membebaskan Zahid, menyatakan bahwa tidak
terdapat cukup bukti untuk mengeksekusinya. Hingga hari ini, tak seorang
pun tahu mengapa Zahid tiba-tiba diizinkan untuk pergi dengan bebas.
Zahid mengganti namanya menjadi Lazarus,
merasa bahwa ia pun telah dibangkitkan dari kematian. Ia berkelana ke
desa-desa di sekitar rumahnya menyaksikan kelepasannya yang ajaib dari
kematian. Mereka melihat kesungguhan Zahid dan menerimanya ke dalam
keluarga besar Kristen.
Sumber: Kesaksian Zahid di Youtube

Author: Mohammad
Mohammad is the founder of STC Network which offers Web Services and Online Business Solutions to clients around the globe. Read More →
Related Posts:
BERITA
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar: